Powered By Blogger

Senin, 23 Mei 2011

SEBUAH PENYESALAN

Angin dingin berhembus perlahan dari jendela kamarku yang kubuka. Langit begitu cerah, namun tak berbintang, hanya bulan saja yang menampakkan cahayanya. Kurasakan hembusan angin malam dan kulihat langit malam dengan perasaan yang gundah. Berbagai perasaan muncul difikiranku.
Penyesalan itu tiba-tiba datang kembali dan sangat menyesakkan dadaku, membuat pikiranku kacau balau. Saat kutarik nafas dalam-dalam, dadku terasa makin sakit. Bukan sakit karena penyakit, melainkan sakit karena sebuah penyesalan yang hingga kini masih terbersit dipikiranku.

Rian......
Tanpa sadar aku menyebut nama itu. Nama yang sudah lama tak pernah kusebut lagi, nama yang telah hilang dari pikiranku. Nama yang membuatku selalu merasakan penyesalan setiap mengingatnya. Sejenak aku termenung, dan akupun kembali masuk kedalam memori tentang dia. Kejadian tentang dia, tentang aku dan dia. Tanpa terasa lamunanku semakin menghadirkan dia kembali. Hingga akhirnya aku kembali tersadar dan kenyataan yang kini terfikirkan adalah bahwa kini rian telah pergi.....tak terasa mutiara-mutiara bening mulai keluar dari sudut mataku dan membasahi pipiku.
Rian....
Dialah sahabatku. Smart, pendiam, sedikit pemalu, dan pembawaannya selalu tenang. Kami bersahabat sejak kelas X SMA karena kebetulan satu sekolahan dan satu kelas. Dari situlah kami mulai saling mengenal dan bersahabat. Kami sering jalan bareng hingga banyak yang ngira kalau kita pacaran. Padahal dalam benakku tak pernah terlintas untuk jadi pacarnya.
Dan waktu pun terus berjalan,,,kita pun masih bersahabat saat kita lulus dari SMA itu, hingga kami masuk keperguruan tinggi yang sama. Meski beda fakultas, kita masih sering ketemu dan jalan bareng walau gak sesering dulu. Maklumlah kan udah punya kesibukan sendiri-sendiri (sibuk ma urusan kuliah maksudnya). Rian lebih memilih masuk di fakultas tehnik karena otaknya encer, sedangkan aku ambil sastra.

“Assalammu’alaikum rian”,  ucapku saat suatu hari' aku main kerumahnya.
“walaikum salam...” eh kamu rin, ayo masuk”. Jawab rian sembari mempersilahkan aku masuk.
“ kamu lagi ngapain ri, kayaknya sibuk banget sampe-sampe tadi aku nelpon gak kamu angkat.”
“Sorry rien, aku lagi gambar konstruksi taman bermain nich, soalnya deadlinenya dua hari lagi. Dari pada ntar aku buatnya pas mepet malh hasilnya gak maksimal”.
“Gambar taman bermain? Coba aku lihat”
Akupun berjalan mendekati meja yang rian gunakan untuk alas menggambar.
“Subhanallah, temenku yang satu ini emang jago banget gambarnya, Ri , kamu tuch calon arsitek tapi gambar konstrukis kamu udah kayak arsitek handal aja, malah lebih bagusa punya kamu”.
“Kamu tu ya sukanya lebay dech rien, tapi..gak pa-pa sich moga kata-kata kamu tadi itu merupakan do’a untukku,,amiiieen”.
“Oh ya ri, kamu mau gak nolongin aku?” Tanyaku pada rian yang sedang asyik menggambar.
“Nolongin apa sich rien...”? jawab rian tanpa menoleh kearahku
“Ya tapi kamu mau gak nolongin”? ucapku lagi sambil merajuk.
“ kalo  aku bisa pasti aku bantu, biasanya kan juga begitu ya kan”? jawabnya sambil terus menggabar.
“Ya rian aku tahu, tapi dengerin aku dulu donk jangan gambar terus”. Aku mulai kesal, karena dari tadi rian gak sedikipun berpaling dari gambarnya.

Rianpun kemudian meletakkan alat gambanya setelah mendengar pekataanku yang kedengarannya agak kesal. Soalnya  rian paling gak suka kalo aku sampe marah, dia berpikir bisa-bisa nanti gambarnya gak selesai gara-gara denger ocehan ku yang gak ada habisnya.
Rianpun kemudian membalikkan badannya dan kemudian tersenyum sambil memandangku. Dia tu suka kalo lahat aku lagi cemberut, katanya keliatan imut, tapi gak suka kalo denger omelanku.
“Rian besok bisa gak temenin aku ke Java Mall?” tanyaku masih cemberut. Rianpun masih tertawa melihatku yang masih dengan wajah cemberut.
“oh Cuma itu tho, tak kirain mau minta tolong apa kok sampai cemberut gitu. Emang mau nyari apa ke Java rien?”
“mau lihat-lihat aja, kan lagi ada pameran elektronik, besok tu hari terakhir,sekalian aku mau beli flasdisk.”
“ gitu aja kok pake cemberut segala, eh tapi kalo kamu cemberut keliatan imut kok, kayak... mar.....
Belum sempat Rian melanjutkan ucapannya aku sudah melemparnya dengan sebuah bantal duduk. Dan tawa rian pun semakin menjadi. Aku semakin dongkol karena merasa diledek. Lalu akupun mencubitnya.
“argh....aduh....rien ampun....dech.” jeritnya sambil meringis kesaklitan. Lalu mengelus-elus lengannya yang tadi aku cubit. Kini gantian aku yang tertawa melihat wajah rian yang aneh karena kesakitan.
“makanya jadi orang tuch jangan suka godain temen sendiri,, enakkan cubitanku.”
“enak apanya sakit tau,,, iya dech rien,,sorry.....,tapi....tadi kamu mau minta apa?”
“yang mana?, aku kan gak minta apa-apa sama kamu.”
“lho, tadi kamu katanya minta ditemenin aku.”
“oh.....itu, aku minta anterin ke java mall, mau ya RI?”
Rianpun terdiam sejenak denagn muka agak serius seperti sedang berfikir.
“ kamu gak bisa nemenin aku ya Ri?” tanyaku pada Rian untuk memastikan jawaban dari rian.
“nggak sih,,, tapi besok kan....rian berdiri.
“bisa gak ri?”  sekali lagi aku bertanya untuk memastikan jawaban rian, takut kalau Rian keburu pergi.
Kemudian dengan tiba-tiba dia berseru sambil mengacungkan jempolnya.....”oke dech princess.”
Kami kemudian tertawa sambil mengadu telapak tangan, “TOS” kami berseru bersama.
Rian......
Dia memang sering meledekku, katanya biar aku cemberut, soalnya kalau aku cemberut, katanya persis sama hewan kesayangannya, marmut ang tampak imut. “Kenapa gak kucing aja sekalian, kucing kan tampak manis”, kataku suatu ketika pada rian. Rianpun hanya tersenyum. Memang itulah Rian yang elam ini dapat membuatku senang, tertawa dan mampu melepaskan semua beban dihatiku. Rian bukan saja seorang teman bagiku, tapi jga sudah kuanggap seperti kakakku sendiri karena kebetulan aku anak tunggal , jadi gak punya saudara kandung.
#######

Pagi itu, seperti biasa Rian menjemput ku untuk berangkat kekampus bareng. Tapi, kayaknya sikap rian agak aneh hari itu. Sikapnya gak seperti biasanya. Rian sering menundukkan wajahnya dan tidak banyak bicara. Padahal walaupun dioa pendiam tapi saat didepanku dia agak cerewet,, tanya ini tanya itu padaku. Aku melihatnya sekilas, dia pun masih menundukkan wajahnya.
“Ri,,” kataku sambil memegang bahunya. Rianpun tersentak kaget.
“ eh,, ada apa rien, tadi kenapa?” tanya rian tergagap.
“ya, masih pagi begini kamu udah ngelamun ntar kesambet lho !.” kataku sambil tersenyum.
Ya gak apa-apa, lagian hantu-hantu pada gak berani nyamperin atau deketin aku selama ada kamu didekatku, mereka tu pada takut sama kamu.heheheh
Iiiiiicchhhhhhhhhhhh rian, nyebelin banget sich, dibilangin kok. Lagian kata orang tua pamali tau kalau pagi-pagi ngelamun ntar bisa cepet tua lho.” Godaku sambil tersenyum.
“ biarin aja, asal tuanya bisa bareng sama kamu, ya kan?” balas rian dengan senyum pula.
Enak aja,... aku sudah siap-siap mau mencubit rian, tapi tangan rian keburu menangkap tanganku.
Aku tersentak kaget, langkah kami pun terhenti. Rian menatapku dengan pandangan yang gak seperti biasanya. Sorot matanya begitu tajam seperti mata elang, hatiku pun menciut, mukaku jadi terasa panas, ada perasaan malu mulai menyelinap dihatiku. Jantungku pun tiba-tiba berdetak hebat, begitu kencang. Kemudian dengan cepat kutarik tanganku dan mengibaskan tangan rian agar rian mau berkedip dan mengalihkan pandanganya yang tajam itu. Tapi ternyata aku salah, rian malah semakin tajam menatapku.
Karena perasaanku bingung, campur aduk tak karuan akhirnya aku kembali melangkahkan kaki. Rian pun mengikui dan menjajarkan kembali langkahnya disampingku. Sampai akhirnya kami tiba ditempat kami biasa bertemu saat dikampus, yaitu disebuah taman yang tak jauh dari cafe kampus. Kami pun duduk dibangku taman. Rian mulai membuka pembicaraan.
“rien, boleh gak ntar malam aku maen kerumahmu?” tanyanya dengan sangat hati-hati.
“kamu ini ri, kenapa gak? ,,kamu kan sudah biasa main kerumahku.
“emang sich, tapi ntar malem kan malam minggu, biasanya kan kalau malam minggu ada acara nge-date gitu.”
“Ri, emang bedanya apa malam minggu sama malam-malam yang lain?, menurutku sich sama saja. Bukannya kamu sendiri yang biasanya ngedate, lagian aku mau ngedate sama siapa, pacar aja gak punya.” Kataku sambil ketawa.
“Aku yang mau ngedate ma kamu Rien.”
“ ye enak aja.”
“ boleh gak nich?”
“ eemmm,,, boleh aja, tapi gak ngedate beneran lho, kalau ngedate beneran aku gak mau.”
“ Thanks Arienna, kamu manis dech”
(tumben banget rian ngatain aku manis, biasanya kan dia ngatain aku imut katak marmut)
Kemudian kamipun berpisah dan menuju kefakultas masing-masing yang letaknya lumayan jauh dari taman kita jalannya berlawanana arah.
Ternyata apa yang dikatakan rian itu bener juga, dia benar-benar datang kerumahku malam harinya. Rian tampak lebih rapi dari biasanya. Sebenarnya biasanya juga rapi, tapi gak serapi malam ini lho, beneran dech. Pakaiannya tampak rapi dan serasi,. Celana panjang hitam yang di padukan dengan lengan panjang kotak-kotak yang lengannya dilipat rapi.
“wow, keren banget, kamu kelihatan kayak lelaki.” Pijiku sambil terus memperhatikannya.
“kamu ini rien masih ngeraguin aku, aku kan emang lelaki, jangan-jangan kamu baru sadar kalau aku ini lelaki.”
“ye bukannya gitu, biasanya kan kamu dandanannya tu masih kayak ABG, tapi malam ini penampilan kamu udah kayak lelaki dewasa sungguhan.”
“ kalau kamu yang ngomong kayak gitu, aku jadi pengen pingsan nih rien.” katanya sambil tersenyum.
“ eits, gak boleh pingsan disini, ntar aku bawain air satu ember lho buat guyur kamu.” Kami pun tertawa bareng.
“bentar ya ri aku mau kedalam dulu.”
Akupun masuk kedapur untuk mengambilkan minuman dan makanan kecil untuk rian.
“sorry ya ri, adanya cuma ini.” Kataku sambil meletakkan makanan kecil dn minuman di meja.
“gak papa kok rien ini juga udah cukup, ntar kalau aku lapar kan bisa minta makan malam disini, ya kan?”
“Kamu ni ya.” Kataku
Kamipun terdiam sejenak.
“ oh ya rien, kok sepi banget kayaknya, emang om sama tante lagi ngapain?”
“ papa sama mama lagi pergi kepesta ulang tahun perusahaan temannya, bukanya orang tua kamu juga pergi kesana?”
“ oh iya aku lupa.” Rianpun memukul keningnya sendiri.
“BTW, ada apa nich malam minggugini kerumahku?” tanyaku pada rian.
Rianpun terdiam sejenak ketika mendengar pertanyaan dariku. Kemudian meneguk minuman yang aku hidangkan. Iapun mulai berbicara.
“Rien.....aku,, rian tampal ragu-ragu mengatakannya. Diapun menatapku.
“sebelumnya aku minta maaf  ya rien, ntar kalau aku sudah ngomong itu, akuharap kamu gak marah atau tersinggung ya?” kata rian,terdengar suaranya yang agak serak dan agak gemetar.
“ kenapa aku mesti marah dan tersinggung, aku aja belum tau apa yang ingin kamu katakan, udah kalau mau ngomong tinggal ngomong aja.”
Kulihat wajah rian yang begitu tenggang.
“Rien, sebenarnya,,,, ehm ,, sudah lama aku ingin ngomongin soal inisama kamu. Sebenarnya akua tuch,,,”
Rian pun kembali menatapku, akupun membalas dengan senyuman untuk meyakinkan kepadanya bahwa aku gak akan marah ataupun tersinggung.
“Rien, aku tuch,, aku suka sama kamu.” Ucap rian dengan suara lirih, tapi hatiku mampu mendengarnya.
Sejenak akupun terdiam, perasaan tak percaya dengan apa yang barusan aku dengar. Hatiku berdebar-debar tak menentu, rian masih terus manatapku. Tapi akupun berusaha mengusir kekagetanku dengan senyuman.
“ udah dech ri, gak usah jahil itu, kamu tu seneng banget ya kalau nggodain aku.”
“Ariena, aku gak sedang bercanda ataupun godain kamu, aku tu beneran suka sama kamu, serius.” Ucapan rian itu penuh penegasan untuk meyakinkan aku.
Akupun menunduk, terdiam.
“ kamu marah ya rien? Tanyanya cemas melihat aku terdiam. Perlahan aku gelengkan kepala dan memberanikan diri untuk menatapnya.
“Rian, aku gak nyangka kalau kamu akan mengatakan ini.”
“apa kamu marah dan tersinggung dengan perkataanku rien?”
Akupun menggelengkan kepala.
“tapi ri, kita kan masih punya tanggung jawab yang lebih besar lagi kepada orangtua kita.”
“maksud kamu?”
“mereka membiayai kita untuk menuntut ilmu agar kita kelas menjadi orang yang sukses kan?”kataku berhati-hati agar rian gak tersinggung.
“ ya aku tahu rien, tapi apakah salah jika kita jatuh cinta dan kemudian pacaran?”
“gak ada yang salah sich ri, setiap orang kan berhak jatuh cinta kepada siapapun.”
“ tapi kenapa kamu gak mau terima aku rien?”
“Sorry ri, aku rasa belum saatnya untuk berpacaran, karena aku rasa aku belum mampu.”
“ tapi apa salahnya kalau kita mencoba, siapa tau kita cocok.” Rian masih mencoba meluluhkan hatiku.
“ memang ri, tapi bagiku pacaran merupakan hal yang asing bagiku. Lagian kamu tau sendiri kan prinsip aku, aku belum mau pacaran sebelum aku mendapatkan penghasilan sendiri dan jalan kita tuch masih panjang ri.”
Sejenak aku memperhatikan rian, dia menunduk terdiam.
“ Ri, buaknlah lebih baik kita tetap menjadi sahabat saja, dan aku juga menganggapmu sebagai kakaku karena kamu selalu melindungi aku dan selalu ada kapanpun aku butuh. Lagian jika awalnya sahabatan dan kemudian pacaran, suatu ketika kalau hubungannya gak baik pasti bisa merusak persahabatan kita.:”
Rian masih menunduk, kamipun akhirnya terdiam dengan pikiran masing-masing. Setelah cukup lama terdiam rianpun pamit pulang.
“ Rian, sekali lagi aku minta maaf ya,.. ri maukah kamu merubah perasaanmu kepadaku hanya sebagai perasaan kepada sahabat atau adik?”
Rian hanya tersenyum dan menjabat tanganku erat.
“ akan kucoba rien>” katanya sambil tersenyum.
Setelah mengatakan itu rianpun membalikkan badan dan pergi.
#####

Sejak malam itu rian tak pernah datang lagi kerumah. Kamipun sudah jarang bertemu, baik dikampus maupun dirumah.
Pernah suatu hari aku main kerumahnya, namun kata pembantunya, rian udah gak tinggal dirumah , dia ngekost. Aku tahu pasti rian sengaje menghindari aku dan tak ingin bertemu denganku. Rasa bersalahku pun mulai bermunculan dihati.
Hari demi haripun berlalu, aku dan rian semakin jauh dan menjauh. Akupun telah lupa akan kejadian itu juga lupa pada rian. Aku disibukkan oleh kegitan dikampus, baik kegiatan kuliah maupun kegiatan organisasi.
Dan kini tak terasa tiga tahun sudah berlalu, aku tak pernah lagi mendengar kabar tentang rian.
Tapi disuatu sore aku mendapat kabar dari salh satu temanku SMA bahwa rian telah pergi jauh. Rian telah dipanggil oleh yang Maha Kuasa. Rian pergi untuk selamanya setelah sekian lama mengidap penyakit kanker otak, tapi aku tak tahu soal itu.
Aku tersadar dari lamunanku, kuraih sepucuk surat yang dikirim Rian saat ulang tahunku sebulan lalu. Dia menuliskan puisi untukku.

untuk sahabatku tersayang
yang slalu hadir dalam angan dani mpianku
bayangmu tak dapat kulupakan
kau slalu kukenang selmanya
meski jarak dan waktu memisahkan kita
meski maut datang merenggut
hatiku takkan pernah berpaling
kamu tetap sahabatku tersayang

Aku terguncang, aku tahu sampai saat terakhirnya rian masih mencintaiku dan mengharapkanku. Air mataku kembali membasahi pipiku, jiwaku, dan penyesalan yang teramat dalam di hatiku.
Kini aku hanya dapat berdoa untuk mengiringi kepergian Rian, semoga Rian diteriam disisih-Nya,, amin.
#######################################

Senin, 02 Mei 2011

ANGAN  DAN  IMPIANKU


Sekali ini
Aku ingin menatap bintang di langit
Sesaat aku pejamkan mata ini
Ku bayangkan wajahmu
Yang selalu menghiasi angan dan impianku
Penyesalan yang kurasa…
Dan ketidak adilan yang kuterima
Semuanya bersatu
Bagai bunga yang sedang merekah
Demi kau
Aku berusaha tanpa henti
Dan tanpa putus asa
Tapi semua impian yang kucita
Kerja keras yang kubina
Hanya berbuah puing-puing derita
Entah mengapa
Apa hanya karma aku seorang Inna
Yang selalu lemah dalam menyinta
Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang diberikan olehnya